Malang (Set Lokasi)
Memuat Jadwal...
Next: - --:--
Donasi
Uncategorized

Cukuplah Mati Sebagai Nasehat

Oktober 6, 2026 • admin1

Cukuplah Mati Sebagai Nasehat | Allah tabaaraka wataalaa berfirman:

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Kemudian, hanya kepada Kami kalian akan dikembalikan“ (QS al Ankabut:57)

“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Dan Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai  ujian. Kepada Kamilah kalian akan dikembalikan“ (QS al Anbiya’:35)

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Sesungguhnya kalian hanya akan diberikan pahala-pahala secara sempurna kelak pada hari kiamat. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya“ (QS Ali Imran:185).

Sungguh Telah Dinyatakan:

Mati telah memusnahkan manusia yang lalu # dan juga akan membinasakan manusia yang masih ada. Mati mengumpulkan di dalam tanah # antara yang mendapat nikmat dan yang celaka. Mati pasti datang maka bersiaplah untuknya # (karena) orang pandai pasti sibuk mengingatnya. Bagaimana bisa bersenang-senang dan menikmati hidup # seseorang yang secara kasat mata melihat dirinya tercipta dari debu. Hari ini masih tinggal di rumah-rumah # dan esok hari telah berada di dalam pemakaman.

    Setelah Allah Swt menyebutkan aturan umum kematian di dalam ayat-ayat tersebut lantas diajukan pertanyaan: Apakah maksud dan kepentingan dari kehidupan yang sirna ini? Maka Al Qur’an menjawab : “…Dan Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai  ujian. Kepada Kamilah kalian akan dikembalikan” artinya tempat tinggal tetap kalian bukanlah dunia ini melainkan di lokasi lain. Kalian datang kesini hanyalah untuk menunaikan ujian dari Allah Swt. Usai secara maskimal melaksanakan integrasi yang diperlukan maka kalian akan dikembalikan ke tempat domisili asli yaitu perkampungan akhirat dalam kondisi mendapat nikmat (Sejahtera) atau celaka.

    Meski ujian terkadang berupa kebaikan dan terkadang berupa keburukan hanya saja bagi sebagian muslim, bencana (bisa jadi) lebih berat dan lebih sulit yang karenanya Allah Swt berfirman : “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah. Siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu“(QS At Taghoobun:11), maka sikap seorang mukmin pada setiap musibah adalah selalu mengatakan “alallah” sebagai bentuk berserah diri (tawakkal) kepadaNya dan mengamalkan ajaran firman-Nya : “Dialah Yang Maha Awal Maha Akhir, Maha Zahir dan Maha Batin. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu“(QS al Hadid:3)

    (Maha Awal Maha Akhir) maksudnya atas kuasa-Nya dan (Maha Zahir Maha Batin) maksudnya atas kewenangan-Nya. (Dia Maha Mengetahui segala sesuatu) maksudnya atas ilmuNya, selaras dengan janji Allah ta’ala, Dzat yang tidak pernah akan mengingkari janji (sebagaimana) dalam firmanNya : “…Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah-lah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu“(QS At Tholaaq:3).

    Tawakkal kepada Allah Swt adalah bagian dari taqwa yang dijanjikan dalam firmanNya: “…Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga…”(QS At Tholaq:2-3). Dikatakan: “Mantapmu kepada Allah hendaknya lebih kuat dibanding apa yang ada dalam genggamanmu”

    Imam al Ghozali rohimahullah mengatakan :

    Mati adalah kiamat kecil. Barang siapa mati maka sungguh telah terjadi kiamat padanya. Dalam kiamat ini seorang hamba menjadi seorang diri. Dikatakan kepadanya: “(Kini) kamu benar-benar datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami ciptakan kamu pada mulanya…“(QS al An’aam:94), dan di sini (juga) dikatakan kepadanya: “Bacalah kitabmu (yang terbuka di hadapanmu) dan cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu“(QS al Isro’:14)

    Oleh karena itulah diriwayatkan dari Rosululloh Saw: “Cukuplah Mati Sebagai Nasehat. Cukuplah yakin sebagai kekayaan. Dan cukuplah ibadah sebagai kesibukan”(HR At Thobaroni dan al Baihaqi).

    Di sebagian riwayat hadits ini marfu’ kepada Nabi Muhammad Saw. Meski sanadnya sangat dlo’if tetapi secara makna ia pasti (tsaabit), shohih tanpa keraguan serta sejalan dengan dasar-dasar (prinsip) syariat yang menjadikan mati sebagai media peringatan berdasarkan sabda Rosululloh Saw:

    “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan-kelezatan” (HR Tirmidzi Nasai Ibnu Majah Ibnu Hibban dalam shohihnya dari Abu Hurairah ra)

    Maksudnya (Cukuplah Mati Sebagai Nasehat) memutus kesenangan sesaat dan maksiat-maksiat dengan konsisten berpacu dalam kebaikan demi kebaikan dan aktivitas-aktivitas surga, serta berusaha menjauh dari semua hal yang mendekatkan ke neraka. Mati juga mengingatkan agar tidak membiarkan nafsu terjebak dalam kesibukan dunia dan cinta kepadanya karena dunia bukan karena akhirat.

    Sabda Rosululloh Saw: “Cukuplah yakin sebagai kekayaan”

    Imam al-Khowwash mengatakan:

    Orang kaya yang sesungguhnya adalah seseorang yang di hatinya ditanamkan yakin oleh Allah dari kekayaanNya, tawakkal dari makrifatNya, dan ridlo dari pemberian-pemberianNya. Imam Syibli menyatakan: Syukur adalah melihat Dzat Pemberi nikmat, bukan melihat nikmat-nikmat.

    Dan adalah hal yang dimaklumi sesungguhnya Rosululloh Saw bersabda:

    “Orang cerdas adalah seseorang yang mengekang nafsunya dan beramal untuk (persiapan) setelah mati. Orang lemah adalah seseorang yang memperturutkan kesenangan nafsunya (sementara) masih (tetap) memiliki Impian-impian kepada Allah”(HR Ahmad Tirmidzi Ibnu Majah Hakim (shohih)

    Maksudnya seorang pribadi yang berakal (kuat), tangguh dan cerdas adalah seorang yang selalu berfikir dampak segala urusan. Dia terus mengoreksi diri, menundukkan dan mengekang nafsunya dalam ketaatan kepada Allah Swt. Ia adalah seorang yang religius (teguh memegang agama).

    Adapun seorang yang lemah, yaitu orang yang ceroboh  yang melalaikan ketaatan kepada Allah Swt adalah orang yang membiarkan nafsunya (liar) berkeliaran dalam kemaksiatan dan kesenangan sambil terus berharap ampunan dan surga dari Allah Swt, padahal ia lalai dan tidak beramal sholeh. Oleh karenanya Allah Swt berfirman:

    “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Sesungguhnya kalian hanya akan diberikan pahala-pahala secara sempurna kelak pada hari kiamat. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya“(QS Ali Imran:185).

    Teks zuhziha (dijauhkan) adalah usaha maksimal manusia untuk membebaskan diri dari terpengaruh  oleh sesuatu, dan menyelamatkan diri (secara total) dari daya tariknya secara perlahan.

    Iya, adapun mengambil manfaat dari kehidupan materi dan anugerah-anugerah yang terkandung di dalamnya sebagai sarana menuju integritas kemanusiaan dan spiritual maka itu bukan hanya tidak dicela saja, bahkan menjadi sebuah urgensi dan kewajiban yang semuanya dengan niat ibadah sebagaimana sabda beliau Saw: “Dan cukuplah ibadah sebagai kesibukan“

    Maka jadilah engkau seorang yang cerdas bukan orang yang lemah (lalai). Jadilah orang yang diberikan nikmat bukan orang yang celaka. Cukuplah Mati Sebagai Nasehat

    -وَاللهُ يَتَوَلَّى الْجَمِيْعَ بِرِعَايَتِه-

    © 2026 Pondok Pesantren Nurul Haromain.

    Tawajjuhat Cabang Home Niaga Donasi
    App Icon
    Install Aplikasi NH

    Akses lebih cepat & ringan tanpa buka browser.

    Install di iPhone/iPad

    1. Tekan tombol Share di bawah browser.
    2. Pilih menu "Add to Home Screen".