Malang (Set Lokasi)
Memuat Jadwal...
Next: - --:--
Donasi
kabarpujon

Bahaya Menjadi Pelita yang Membakar Diri

September 23, 2026 admin1

Bahaya Menjadi Pelita | Metode pendidikan Rasulullah ﷺ sarat hikmah dan selalu menyentuh hati. Beliau kerap memilih analogi konkret agar umat cepat menangkap ajaran Islam sekaligus menanamkannya ke relung hati.

Salah satu analogi yang paling menggetarkan jiwa adalah perumpamaan pelita bagi orang alim yang giat mengajarkan kebaikan, namun lalai mengamalkannya untuk dirinya sendiri.

Bahaya Menjadi Pelita | Hadits tentang Pelita yang Membakar Diri Sendiri

Rasulullah ﷺ menyampaikan peringatan tegas ini dalam sabdanya:

“Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, tetapi melupakan dirinya sendiri, adalah seperti pelita yang menerangi manusia, tetapi membakar dirinya sendiri.” (HR. Ath-Thabarani dan Adh-Dhiya’ dari Jundab)

Pelita memberikan cahaya bagi lingkungan di sekitarnya, tetapi tubuh dan sumbunya perlahan musnah terbakar api. Begitu pula orang berilmu yang hanya memerintahkan amal saleh tanpa mengamalkannya; ia membakar dirinya sendiri dengan api akhirat, sementara manfaat bagi orang lain lahir dari kebinasaan pribadinya.

Sabda serupa juga diriwayatkan dari Abu Barzah, bahwa Rasulullah ﷺ menegaskan:

“Perumpamaan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, tetapi melupakan dirinya sendiri, adalah seperti sumbu pelita yang menerangi manusia, tetapi membakar dirinya sendiri.” (HR. Ath-Thabarani)

Tiga Golongan Ulama Berdasarkan Sikap Hati

Dalam kajian tarbiyah nabawiyah, ulama dan pembawa ilmu terbagi ke dalam tiga kelompok utama berdasarkan motivasi batinnya:

Pertama, kelompok penyelamat sejati. Mereka adalah orang-orang yang secara lahir maupun batin mendahulukan keridaan Allah di atas kepentingan dunia. Mereka menyelamatkan diri mereka sendiri sekaligus mengantarkan orang lain menuju keselamatan.

Kedua, kelompok pemusnah total. Mereka memanfaatkan ilmu agama semata-mata untuk memburu kemewahan dan kedudukan duniawi. Golongan ini membinasakan diri mereka sendiri sekaligus menjerumuskan orang-orang yang mengikutinya.

Ketiga, kelompok lilin yang membakar diri. Mereka mengajak manusia menuju akhirat dan tampak zuhud secara lahiriah, namun batinnya lalai mengamalkan ilmunya sendiri. Mereka menyelamatkan orang lain lewat nasihatnya, tetapi membinasakan diri sendiri akibat kelalaian amalnya.

Nasihat Sahabat dan Ahli Hikmah Mengenai Ilmu Tanpa Amal

Menuntut ilmu bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan intelektual, melainkan memikul amanah pertanggungjawaban yang berat di hadapan Allah.

Sayyidah Aisyah r.a. pernah menegur seorang pemuda yang tekun mendengarkan hadits dengan ucapan: “Apa yang telah kamu amalkan dari apa yang telah kamu dengar? Mengapa kamu terus menambah hujah Allah yang kelak menuntut pertanggungjawaban kita?.

Nabi Isa a.s. juga mengingatkan bahaya kepura-puraan orang yang berilmu namun abai beramal: “Perkataan kalian adalah obat, sedangkan perbuatan kalian adalah penyakit. Kalian seperti pohon oleander, yang mengagumkan orang yang melihatnya, tetapi membunuh orang yang memakannya.”

Sahabat Nabi, Abu ad-Darda’ r.a., mempertegas peringatan ini. Beliau menyatakan bahwa orang bodoh celaka satu kali, tetapi orang yang mengetahui ilmu lalu tidak mengamalkannya celaka seribu kali.

Ulama sufi Sahl at-Tustari turut mengingatkan : “Dunia adalah kebodohan kecuali ilmu. Ilmu menjadi beban yang memberatkan pemiliknya, kecuali jika ia mengamalkannya dengan penuh keikhlasan.”

Sementara itu, menuntut ilmu lalu menyembunyikannya tanpa disampaikan diibaratkan oleh Rasulullah ﷺ seperti orang yang menimbun harta karun tanpa pernah menafkahkannya sedikit pun (HR. Ath-Thabarani dari Abu Hurairah).

Bolehkah Orang yang Bermaksiat Menyeru Kebaikan?

Sebagian kalangan keliru menafsirkan hadits pelita ini dengan menganggap bahwa orang yang masih berbuat dosa tidak berhak melakukan amar makruf nahi munkar.

Para ulama menegaskan bahwa mengamalkan kebaikan dan mengajak orang lain kepada kebaikan adalah dua kewajiban terpisah yang sama-sama bernilai ibadah. Kegagalan menjalankan satu kewajiban tidak lantas menggugurkan kewajiban yang lain.

Seseorang yang merasa amalnya belum sempurna tetap harus menyerukan kebenaran dan mencegah kemungkaran, sembari terus berjuang memperbaiki diri agar tidak berakhir seperti pelita yang menerangi orang lain namun menghanguskan diri sendiri.

© 2026 Pondok Pesantren Nurul Haromain.

Tawajjuhat Cabang Home Niaga Donasi
App Icon
Install Aplikasi NH

Akses lebih cepat & ringan tanpa buka browser.

Install di iPhone/iPad

1. Tekan tombol Share di bawah browser.
2. Pilih menu "Add to Home Screen".