Peristiwa Usamah dan Hatib | Nama al-Huruqāt berasal dari kata al-ḥurqah (bakar). Dalam bahasa Arab, bentuk jamak muannats salim terkadang digunakan untuk penisbatan. Penamaan tersebut dikaitkan dengan seseorang bernama Juhaysy bin ‘Āmir yang terkenal karena membakar musuh dalam peperangan.
Desa Huruqāt berada di antara Makkah dan Madinah. Nama tersebut muncul karena seorang preman bernama Juraisy bin ‘Āmir kerap memerangi musuh dengan membakar mereka. Oleh sebab itu, Rasulullah ﷺ mengutus Usāmah bin Zayd untuk menghadapi kelompok tersebut setelah ayahnya wafat.
Peristiwa Usamah dan Pembunuhan Seorang yang Bersyahadat
Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa pasukan kaum muslimin menyerbu kelompok Juraisy pada waktu subuh. Serangan tersebut berhasil dan kelompok Juraisy kalah. Di antara musuh terdapat seorang laki-laki Anshar (Abu Dardā’) yang melarikan diri.
Ketika tertangkap, laki-laki tersebut mengucapkan syahadat. Namun Usāmah tetap membunuhnya. Peristiwa Usamah dan tindakan ini kemudian ditegur oleh Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda, “Wahai Usāmah, apakah engkau membunuh orang yang mengucapkan lā ilāha illallāh?” Beliau mengulanginya sebanyak tiga kali.
Usāmah menyesal sangat mendalam. Ia sampai merasa seolah dirinya bukan seorang muslim karena tindakan tersebut. Selain itu, ia menganggap dirinya telah melakukan dosa besar karena membunuh seorang muslim.
Kepemimpinan Usamah di Medan Perang
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Salamah bin Aqwa’ ikut berperang bersama Rasulullah ﷺ sebanyak tujuh kali. Secara total, ia telah ikut sembilan kali peperangan. Salah satu di antaranya dipimpin oleh Usāmah dan satu lagi oleh Abu Bakar.
Usāmah saat itu masih muda. Namun ia memiliki kemampuan memimpin yang baik. Hal tersebut dapat dimaklumi karena ia memiliki kedekatan yang istimewa dengan Rasulullah ﷺ.
Dijelaskan bahwa penyebutan “ibnu Hārithah” merujuk kepada Zayd. Namun bukan bermakna Zayd putra Hārithah, melainkan penisbatan kepada kakek. Kakek Usāmah memiliki nama Hārithah.
Peristiwa Hatib dan Pembocoran Informasi Perang
Peristiwa Hatib termasuk bagian dari bab Ghazwat al-Fath. Rasulullah ﷺ mengutus Hatib dalam suatu misi perang. Namun Hatib membocorkan berita tersebut kepada penduduk Makkah melalui seorang perempuan pembawa surat.
Dikisahkan bahwa Rasulullah ﷺ mengutus ‘Alī, Zubayr dan Miqdād menuju Raudlah Khadl. Tempat tersebut terletak antara Makkah dan Madinah. Mereka diberi instruksi untuk mengambil surat dari perempuan yang membawa informasi tersebut.
Setelah perempuan itu ditemukan, ia diminta menyerahkan surat. Ia menolak, hingga diancam akan dibuka bajunya. Oleh karena itu, ia akhirnya mengeluarkan surat itu dari balik kepalanya. Surat tersebut dibawa kepada Rasulullah ﷺ.
Ketika dibaca, surat itu berasal dari Hāṭib bin Abī Balta‘ah. Isinya memberitakan bahwa Rasulullah ﷺ akan menyerang Makkah. Rasulullah ﷺ kemudian menegur Hatib.
Hatib menjelaskan alasannya. Ia memiliki keluarga di Makkah yang berjasa kepadanya dan bukan dari Quraisy. Ia ingin mereka mengetahui situasi dan menyelamatkan diri. Ia menegaskan bahwa tindakannya bukan karena membenci Islam atau berkhianat.
Umar kemudian mengusulkan agar Hatib dibunuh dan menuduhnya munafik. Namun Rasulullah ﷺ menjawab, “Wahai Umar, tunggu dulu. Dia ikut perang Badar. Oleh sebab itu Allah pasti merahmatinya.” Rasulullah ﷺ lalu berkata kepada Hatib, “Lakukanlah sesukamu, karena Allah telah mengampunimu di akhirat nanti.”
Sesudah peristiwa tersebut, turun Surah al-Mumtahanah ayat 1. Ayat ini melarang menjadikan musuh sebagai teman setia dan menyebarkan kabar kepada mereka atas dasar belas kasihan. Sebab mereka jelas memerangi dan mengusir kaum muslimin.
Tingkatan Manusia dan Hikmah Penutup
Dalam Surah Fāṭir ayat 36 dijelaskan bahwa manusia terbagi menjadi tiga tingkatan. Pertama, ẓālim linafsih yaitu yang dosanya dihapus setelah diazab. Kedua, muqtaṣid yang selamat di akhirat. Ketiga, sābiq bil-khayrāt yang memperoleh kedudukan tinggi.
Ẓālim adalah yang masih mencintai nafsunya. Muqtaṣid adalah yang mencintai agamanya dan berpegang teguh kepadanya. Sedangkan sābiq adalah yang mencintai Allah dan selalu bersama-Nya dalam ingatan dan keadaan.
Penjelasan tambahan menyebut bahwa ẓālim adalah pemilik banyak ucapan. Muqtaṣid adalah pemilik perbuatan baik. Sedangkan sābiq adalah pemilik keadaan hati yang baik sehingga orang merasa nyaman bertemu dengannya, sebagaimana para wali Allah. Peristiwa Usamah dan Hatib
Selain itu terdapat beberapa hikmah. Di antaranya adalah “‘arifta falzam”, yaitu apabila mendapatkan ilmu maka amalkan dan istiqamahkan. Lalu pesan “lā takūnū imma‘ah”, yaitu jangan menjadi orang yang mudah ikut-ikutan. Seorang muslim harus memiliki prinsip yang kokoh.