Adab Saat Dipuji | “Kalau ada orang memuji, katakan saja: Alhamdulillahilladzi azh-harol malih wa satarol qobih — Segala puji hanya bagi Allah yang menampakkan kebaikan dan menutup keburukan.” — Abi Ihya
Setiap manusia secara naluriah senang ketika mendapatkan pujian. Tidak hanya itu, pujian sering datang dari berbagai sebab—ketampanan, jabatan, kecerdasan, prestasi, penghargaan, dan banyak hal yang membuat orang kagum. Rasa senang itu wajar. Namun, justru pada titik itulah ujian besar muncul.
Ketika seseorang menanggapi pujian dengan sikap yang salah, ia bisa hancur secara perlahan. Hatinya naik begitu tinggi, terbang seakan tanpa batas, lalu jatuh karena tali kesadarannya putus. Banyak orang yang tumbang bukan karena hinaan, tetapi karena pujian.
Pujian Tidak Selalu Seindah Kedengarannya
Sering kali pemuji berbicara berlebihan. Bahkan ada yang sampai hiperbolis, penuh dramatisasi, atau tidak sesuai kenyataan. Karena itu, kita perlu menjaga hati agar tidak mengikuti ucapan manusia.
Alhamdulillahilladzi azh-harol malih wa satarol qobih
Pada hakikatnya setiap manusia memiliki aib. Tidak ada yang sepenuhnya bersih. Namun Allah menutup aib itu sehingga orang lain hanya melihat sisi baiknya. Sungguh ini termasuk nikmat besar atas umat Rasulullah ﷺ.
Dahulu, sebelum masa Baginda Nabi, seseorang yang bermaksiat pada malam hari akan mendapati nama dan perbuatannya tertulis di depan rumah pada pagi harinya. Semua orang tahu dosanya. Namun Allah memuliakan umat Nabi Muhammad ﷺ. Allah menutup aib kita sehingga orang lain hanya melihat kebaikan.
Jangan Terbang Karena Pujian
Karena itu, seseorang harus menahan diri agar tidak membesar diri ketika dipuji. Bangga berlebihan, merasa hebat, atau lupa bahwa semua kebaikan berasal dari Allah. Kita tidak harus menghindari pujian, tetapi kita harus menjaga hati saat menerimanya. Dzikir itulah yang menundukkan jiwa agar tetap rendah hati.
Adab Bagi Orang yang Memuji
Adab Saat Dipuji | Bagi orang yang ingin memuji, pujilah dengan adab. Hindari sikap lebay ketika memuji. Tidak perlu mengucapkan kalimat hiperbolis, apalagi memuji seseorang secara langsung di depannya. Bahkan lebih baik memuji seseorang di belakangnya, bukan tepat di hadapannya. Dengan menjaga sikap, kita mencegah pujian merusak hati dan menjerumuskan ke dalam riya.
🌸 Pelajaran Utama
Pertama, ketika seseorang memuji, kita langsung mengembalikan pujian itu kepada Allah dengan doa “Alhamdulillahilladzi azh-harol malih wa satarol qobih.”
Selanjutnya, dalam memberi pujian kepada orang lain, kita memilih kata yang proporsional — tanpa lebay, tanpa hiperbola.
Terakhir, kita mengamankan hati dari rasa besar diri, karena adab yang terjaga lebih berharga daripada kata-kata indah.
Semoga Allah menjaga kita dari ujian pujian dan menjadikan kebaikan yang tampak pada diri kita sebagai bukti kasih sayang-Nya, bukan sebab kesombongan kita.
Wallahu a’lam
💝 Saat Pujian Menjadi Amal Jariyah
Jika pujian adalah ujian, maka amal kebaikan adalah penyelamat. Seorang hamba menyembunyikan kebaikannya dan mengarahkan seluruh amal itu hanya kepada Allah. Amal seperti itu yang menenangkan hati.
Saat ini LPI Nurul Haromain sedang membangun fasilitas pendidikan untuk mencetak generasi Qur’ani beradab. Para pewakaf menciptakan aliran pahala tanpa henti; para santri belajar ilmu, para guru mengajar dengan ikhlas, dan ayat-ayat Al-Qur’an terus lantang dibaca selama sekolah berdiri.
✨ Mari tutupi kekurangan diri dengan amal jariyah
✨ Mari rawat hati agar tidak rusak oleh pujian, tetapi lembut karena berbuat baik
Kalau ingin, cukup ijab di hati:
“Ya Allah, ini dariku untuk agama-Mu.”
👇 Wakaf dapat dilakukan melalui tombol berikut: