Banyak orang salah memahami pembahasan tentang kebolehan bohong dalam Islam, sementara para ulama telah menjelaskan batasan dan ketentuan syariat dalam masalah ini dengan sangat jelas.
Dalam keseharian kita, masyarakat memaknai kata bohong sebagai sesuatu yang buruk. Bahkan secara umum, berbohong adalah akhlak tercela dan bertentangan dengan iman. Namun Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada umat bahwa ada pengecualian yang jarang dipahami banyak orang. Beliau menegaskan bahwa seorang muslim berkata untuk mendamaikan manusia dan menghentikan keburukan, meskipun kata-kata itu tidak sepenuhnya sesuai kenyataan.
Nabi ﷺ menegaskan hal ini dalam sabdanya:
“Bukanlah pembohong orang yang mendamaikan antara manusia, lalu ia mengatakan kebaikan dan menyebarkan kebaikan.”
(HR. Ahmad, Bukhari, Tirmidzi — shahih)
Artinya: orang yang menambah perkataan untuk menyatukan dan memperbaiki hubungan, tidak termasuk golongan pembohong.
🔍 Bukan menghalalkan bohong, tetapi menghilangkan dosanya
Para ulama menjelaskan bahwa :
- Perkataan yang tidak sesuai kenyataan tetap disebut bohong
- Namun dosanya diangkat apabila tujuannya adalah kebaikan yang jelas
Jadi bukan berarti “bohong berubah menjadi jujur”, tetapi:
nabi ﷺ tidak menyebut pelakunya sebagai pembohong karena niatnya mendamaikan.
🕊️ Syariat Islam membolehkan tiga kondisi secara khusus.
Para ulama menyebutkan tiga keadaan utama di mana kebolehan bohong dalam islam demi kemaslahatan :
1️⃣ Untuk mendamaikan dua pihak yang berselisih
Mengatakan hal-hal baik agar hubungan kembali baik.
2️⃣ Dalam kondisi peperangan
Untuk menguatkan pasukan muslim dan melemahkan musuh.
3️⃣ Untuk menjaga keharmonisan rumah tangga
Seperti suami memperindah ungkapan agar membahagiakan istrinya.
Imam An-Nawawi mengutip Al-Ghazali untuk menjelaskan batasannya :
Jika tujuan baik bisa dicapai dengan jujur, maka bohong tetap haram. Tetapi jika tujuan baik hanya bisa dicapai dengan bohong, maka bohong dibolehkan untuk hal mubah dan wajib untuk hal wajib.
Dengan kata lain, syariat membuka pintu keringanan ketika kejujuran justru menghasilkan kerusakan yang lebih besar.
🌱 Pelajaran akhlak untuk kehidupan
Hadits ini mengajarkan kita agar :
- menjaga kejujuran sebagai akhlak utama
- namun tetap bijak dalam keadaan khusus
- dan mengutamakan perdamaian, persatuan, dan ketenangan keluarga muslim
Islam bukan sekadar mengatur benar–salah dalam perkataan. Namun, juga memperhatikan maslahat dan akibatnya terhadap umat.
Para ulama selalu mengarahkan umat di setiap majelis ilmu untuk memulai perbaikan dari pendidikan yang menanamkan akhlak dan kecintaan kepada Al-Qur’an.
Jalan itu sedang kita ikhtiarkan bersama melalui :
Wakaf Pembangunan Gedung Baru SDIT Ya Bunayya
Melalui wakaf pendidikan:
- Para santri mempelajari ilmu di sekolah dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga para pewakaf mendapatkan aliran amal jariyah tanpa henti.
- Ketika para santri membaca ayat demi ayat Al-Qur’an di kelas, para pewakaf mendapatkan pahala yang terus mengalir.
- santri yang tumbuh berakhlak mulia menjadi pahala yang terus mengalir
Bagi yang ingin ikut serta dalam amal jariyah ini,
👉 Klik “Wakaf Sekarang”.